Mengajari Otak untuk Bermimpi

“Orang seperti kita, kalau tidak punya mimpi maka akan mati!” kalimat dahsyat dari Arai kecil dalam “Sang Pemimpi”-nya Andrea Hirata. Jujur, begitu menemukan kalimat mutiara (bukan kata-kata mutiara) yang satu ini semangat saya untuk bermimpi jadi meluap-luap. Saya menangkap maksud sang penulis: Lahir sebagai orang yang biasa-biasa saja mengharuskan kita bermimpi. Merubah apa yang biasa menjadi luar biasa. Bermimpi dan terus bermimpi. Tentu saja dengan keyakinan bahwa mimpi kita itu pada masanya akan menjadi kenyataan.

Beberapa bulan setelah membaca novel Sang Pemimpi, saya menemukan buku hebat yang lain. Bedanya adalah, buku kedua yang saya maksud ini bukan fiksi. Melainkan buku phsikologi popular. Dalam buku yang lumayan tebal itu, -saya belum selesai membacanya- di tulis sebuah penemuan hebat abad ini. Penemuan tentang cara Tuhan memerintah otak. Lalu apa hubungan antara cara Tuhan memerintah otak dengan anjuran bermimpi versi andrea?

Ringkasnya seperti ini. Ketika kita berumur tujuh tahun, kita mulai belajar mengikat tali sepatu. Belajar bersepeda, menggunakan alat-alat elektronik dan lain sebagainya. Nah, ketika kali pertama kita melakukan hal-hal baru tersebut, otak kita akan berkonsentrasi secara penuh. Bisa dibayangkan seperti apa wajah anak umur tujuh tahun yang sedang belajar mengikat tali sepatu?.

Pada tahap ini, maksud saya adalah tahap pengenalan. – pengenalan kebiasaan baru-. Otak akan membentuk suatu “jalan” baru yang masih sempit. Apa yang terjadi jika kebiasaan ini berlangung lama, terus menerus dan konsisten? Yang terjadi adalah “jalur” baru itu lambat laun akan melebar. Melebarnya jalur ini tentu akan mempermudah pelaksanaan tugas yang sesungguhnya. Si anak kecil yang sudah belajar mengikat tali sepatunya sejak umur tujuh tahun, di usia sepuluh tahun akan mampu melakukan hal sama, bahkan sambil memejamkan mata!

Kasus di atas adalah contoh. Juga hal yang diyakini oleh para motivator. Jika kita “memaksa” menanamkan mimpi dalam otak. Menanamkan secara terus-menerus disertai keyakinan sepenuhnya, mimpi itu lambat laun akan menjadi kenyataan. Kenapa? Karena itulah cara Tuhan memerintah otak! Jadi tidak ada cara lain selain melakukan ide brilliant diatas. Bermimpilah. Dan biasakan otak anda untuk menerima mimpi itu.

*penjelasan secara ilmiah bisa anda baca di buku-buku motivasi dan phsikologi. Tapi saya tidak memiliki lisensi ilmia -meminjam kata-kata Andrea- untuk menuliskannya. Selamat bermimpi…. J*

Pekalongan Juli 2008. By Ekky.

~ oleh minakotoko di/pada Juli 5, 2008.

Tinggalkan Balasan