Mengapa Allah hanya menyebut bidadari untuk mujahid tanpa bidadara bagi mujahidah?pernahkah anda menanyakan hal serupa itu? Lantas apa jawaban dari pertanyaan “nyeleneh” tersebut?
Alhamdulillah beberapa hari yang lalu saya menemukan buku karangan Abu Umar Abdillah , “Wanita Surga Akankah Mendapatkan Bidadara?” Dalam buku yang tidak terlalu tebal itu Abu Umar Abdillah mengingatkan kita bahwa Ketika Allah menyebutkan segala keindahan dan kesenangan yang ada di surga maka hal itu berlaku umum. Umum di sini berarti baik bagi pria maupun wanita seluruhnya mendapatkan kenikmatan tersebut. Firman Allah :
“ Barang siapa yang mengerjakan amal-amal sholeh,baik pria maupun mawita sedang ia orang yang beriman,maka mereka itu masuk ke dalam jannah dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (An nisa : 124). Diantara hikmah tidak disebutkannya bidadara untuk kaum wanita karena tabiat wanita memiliki rasa malu yang tinggi. Ambil contoh tak ada reaksi dari kaum laki-laki selain termotivasi ketika mendengar hadist “laki-laki yang syahid akan mendapatkan 72 istri dari bidadari yang bermata indah”.
Tapi kiranya mengusik rasa malu kaum wanita jika disebutkan bahwa wanita syahidah akan mendapatkan 72 laki-laki bidadara. Hikmah lainnya adalah laki-laki lebih tampak reaksinya ketika mendengarkan cerita “si fulanah sangat cantik” daripada “si Fulan memiliki mobil”,adapun bagi wanita umumnya tidak begitu perduli ketika mendengar “Si Fulan berwajah tampan”, sedangkan Allah memberikan motivasi dengan sesuatu yang manusia tergoda olehnya di dunia.
Nah, setelah jelas bahwa tidak ada bidadara khusus untuk wanita surga, lantas siapakah suaminya kelak di jannah?
keadaan wanita di dunia tidak akan luput dari kemungkinan-kemungkinan berikut :
Dia meninggal sebelum menikah
Meninggal setela ditalak dan belum menikah lagi dengan laki-laki lain
Dia menikah namun dirinya masuk surga dan suaminya tidak
Dia meninggal dalam keadaan bersuami
Suaminya meninggal lalu dia tidak menikah lagi dengan laki-laki lain
Suaminya meninggal lalu dia menikah lagi dengan laki-laki lain
Itu adalah keadaan mereka di jannah, sedangkan di surga mereka akan mendapatkan bagiannya masing-masing.
Keadaan wanita jannah pertama,kedua dan ketiga, Allah akan menikahkannya dengan pria dari dunia sebagaimana yang disabdakan nabi “Di jannah tidak ada hidup membujang” (HR Muslim).
Untuk wanita jenis ke empat yakni wanita yang meninggal dalam kedaan bersuami, maka suaminya di dunia itulah yang akan menjadi suaminya di jannah. Firmannya: “Masukklah kamu ke dalam jannah, kamu dan istri-istri kamu digembirakan”
(Az Zukhruf :70)
Adapun wanita jenis keenam, yakni wanita yang suaminya meninggal kemudian dia menikah dengan laki-laki lain, maka suaminya di jannah adalah orang yang terakhir kali menjadi suaminya. Sebagaimana sabda Nabi “seorang wanita (di jannah) adalah istri bagi suaminya yang terakhir di dunia (HR.Attirmidzi) .
Hudzaifah berkata kepada istrinya : “jika kamu ingin menjadi istriku di jannah, maka janganlah engkau menikah sepeninggalku karena sesungguhnya wanita di jannah adalah bagi suaminya yang terakhir di dunia”.
Karenanya pula Allah mengharamkan atas istri-istri nabi untuk menikah sepeninggal Nabi, karena mereka adalah istri-istri nabi di jannah pula.Wallahu’alam.
Komentar Terakhir